Kisah Tentang Kesenian Tari Bendrong Lesung

Sebagai negara agraris, sebagian wilayah Indonesia memang terdiri dari wilayah pertanian. Bagi masyarakat dengan mata pencaharian bertani, masa paling membahagiakan adalah saat masa panen tiba. Kebahagiaan itu diwujudkan dengan berbagai perayaan yang berbeda-beda. Seperti yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Cilegon, Banten. Masyarakat daerah Cilegon memiliki sebuah kesenian yang bernama Bendrong Lesung.

Saat panen raya tiba, masyarakat Cilegon Banten akan melakukan perayaan berupa Tari Bendrong Lesung atau Tari Gondang Lesung. Tari ini merupakan wujud suka cita atas jerih payah selama berbulan-bulan serta semangat masyarakat dalam menyambut panen padi. Tarian ini sudah ada sejak dahulu kala ketika musim panen tiba. Pertunjukan Tari Bendrong Lesung ditarikan oleh wanita dewasa namun lambat laun penari pria juga tak luput menjadi bagian dari pertunjukan. Jumlah penari Bendrong Lesung terdiri dari enam orang.

Para penari akan menari mengelilingi lesung, lalu membenturkan alu dan lesung, layaknya orang yang tengah menumbuk padi. Ketika suara alu dan lesung yang beradu secara bergantian, menghasilkan nada unik yang meriah, membawa suasana riang gembira bagi warga. Tempo ketukan dalam tarian ini awalnya lambat hingga lama kelamaan menjadi cepat. Karena alu yang berat, terkadang ada penari cadangan yang bersiap untuk menggantikan penari utama jika kelelahan.

Tarian ini mengisyaratkan agar setiap orang senantiasa bersyukur dengan anugerah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Selain terinspirasi dari semangat petani di masa panen, ternyata terdapat versi yang menyatakan bahwa bendrong lesung juga memiliki kisah yang cukup mengharukan. Sebuah cerita mengatakan bahwa dahulu kala para ibu-ibu petani mencoba menghibur sang anak yang sedang menangis karena kelaparan untuk membuat sang anak berhenti dari tangisannya. Ibu-ibu zaman dahulu mencoba membunyikan lesung atau alu agar anaknya mengira jika si ibu sedang menyiapkan makanan untuknya. Karena konon, pada masa itu, kawasan Banten sempat dilanda kekeringan yang cukup parah sehingga para petani tidak memiliki komoditas padi, sayur hingga umbi-umbian.